
Anak-Anak Ajaib Gaza
Sebuah artikel yang menggugah kesadaran saya untuk berbuat lebih baik lagi dan artikel ini pernah dimuat di Republika Online saya posting ulang di sini. Semoga memberi inspirasi dan motivasi.
Reportase Oleh: EH Ismail dari Jalur Gaza, Palestina (Foto dari Google sebagai ilustrasi tambahan).
Delapan remaja berusia 15-18 tahun sedang duduk melingkar saat saya berkunjung ke Masjid Al Abror di Rafah, wilayah Gaza, Palestina. Tangan mereka memegang kitab suci Alquran. Ada yang berukuran kecil, ada yang berukuran sedang, dan ada pula yang berukuran besar.
Sepandangan mata, mereka membaca Alquran yang ada di tangan. Sekejap kemudian, Alquran ditutup dan mulutnya mengulangi ayat-ayat yang baru saja dibaca dengan mata terpejam. Gerakan itu dilakukan berulang-ulang. Di samping mereka, ada lingkaran anak-anak lain yang melakukan hal sama. Di hadapan para remaja ini, duduk Hasan Ali Al Azajy (47 tahun). Di depan Hasan, ada Alquran besar terbuka. Alquran dalam posisi setengah berdiri di atas meja kecil.
Di sisi lain masjid, sejumlah anak duduk berbaris memanjang berjarak satu meter, seperti antrean. Di hadapan mereka, ada seorang ustaz yang meletakkan Alquran sama seperti yang dilakukan Hasan. Hasan dan juga ustaz lainnya memanggil satu per satu anak itu ke hadapan mereka. Anak-anak pun maju tanpa Alquran lagi di tangan. Di hadapan para ustaz, mulailah mereka membaca ayat-ayat Alquran yang baru saja dihafalnya.
Pemandangan seperti di Masjid Al Abror, saya jumpai setiap hari di sejumlah masjid di Rafah. Kebetulan, saat ini adalah musim liburan sekolah. Kebanyakan anak dan remaja Gaza berkumpul di masjid selepas shalat Subuh sampai waktu Zuhur untuk mengikuti sekolah menghafal Alquran yang diadakan para pengurus masjid.
Saya sudah mendengar berita tentang sekolah ini sebelum bertugas ke Gaza. Mulanya, saya tak percaya banyak generasi belia Gaza mampu menghafal seluruh ayat Alquran dalam waktu dua bulan. Tapi, sekarang saya menyaksikan sendiri sejumlah anak dalam waktu tiga jam bisa hafal satu juz Alquran! Padahal, dia hanya membaca sekelebat dan kemudian mengulanginya di hadapan sang ustaz. Sungguh luar biasa.
Hal yang membuat saya lebih terperangah adalah kondisi lingkungan mereka menghafal Alquran yang jauh dari kata sepi dan sunyi. Masjid Al Abror terletak di tengah-tengah pasar yang ramai dengan aktivitas dagang penduduk Rafah. Saat saya datang, bunyi mesin bor menderu di sekitar mereka. Masjid yang hancur karena serangan roket Israel pada dini hari 15 Januari 2009 itu sedang direnovasi.
Keramik-keramik lantai masjid belum terpasang kembali. Atap pembatas antara lantai satu dan lantai dua masjid juga masih menganga. Lubang bekas hantaman roket dan kipas angin yang menggelayut di atap masih terlihat jelas. Anak-anak itu harus belajar beralas tikar.
“Walaupun sedang renovasi, kami tak ingin anak-anak kehilangan waktu untuk belajar dan menghafal Alquran. Biar saja sementara pakai tikar dan masih berpasir,” ujar Syekh Abu Mansoor, imam masjid Al Abror.
Di sebelah selatan Masjid Al Abror, saya mampir di Masjid Ibadurrahman. Masjid dua lantai ini memiliki bangunan yang jauh dari kesan megah. Di lantai pertama, pemandangan sama seperti di Masjid Al Abror kembali saya temui. Namun, jumlah anak dan remaja yang tengah menghafal Alquran lebih banyak. Di lantai dua masjid, kerumunan anak-anak dan remaja putri juga tengah mengikuti sekolah menghafal Alquran.
Saat mencoba melongok ke lantai dua masjid, saya berbicara dengan sejumlah ustazah guna mencari tahu rahasia kemampuan murid-murid mereka dalam menghafal Alquran secara cepat. Seorang ustazah menerangkan, mereka bersyukur kepada Allah yang telah melahirkan mereka di negeri yang mempunyai bahasa Arab sebagai bahasa ibunya. “Bahasa Arab, bahasa Alquran, adalah bahasa kami. Kami bersyukur atas berkah ini. Sekarang, kami ingin menjadi bagian dalam upaya memelihara kemurnian dan mukjizat Alquran,” papar ustazah yang tak saya ketahui wajahnya itu.
Tengah asyik mendengar penjelasan sang ustazah, seorang gadis mungil berlari sambil membawa secarik kertas ke hadapan saya. Di atas kertas buku yang sobek itu, tertera barisan kata-kata dalam bahasa Inggris. Si gadis pun membacakan tulisannya di hadapan saya.
"We are very happy to see you in our country Palestine. We are reading our Holly Book (Quran). Certainly Quran is protected in our hearts, chests, minds, and tongues. Help us to be the best Muslims in the world."
Saya ingin memeluk gadis itu kalau tak sadar banyak wanita bercadar di sekeliling saya. Saya pun hanya membelai kepala sang gadis dan membisikkan kata:
“Insya Allah, I will help you my little beautiful sister.”Semuanya pun tertawa riang.
Gadis itu bernama Aya Saad Abu Jazair. Usianya baru 13 tahun dan dia adalah anak terpandai di sekolah dalam menghafal Alquran di Masjid Ibadurrahman. Sambil bergurau, sang ustazah berkata, “Saya yakin, hafalan Alqurannya lebih baik dari Anda, saudaraku dari Indonesia.”
Saya pun mencoba memastikan tebakan sang ustazah. Saya ambil Alquran kecil dalam tas dan membaca sembarang ayat yang saya buka. Begitu satu ayat saya baca, Aya Saad pun melanjutkan ayat selanjutnya tanpa kesalahan sama sekali! Saya coba lagi dengan menyebutkan nama surah Almukminuun, lagi-lagi Aya Saad melafalkan ayat-ayat dalam surah itu dengan sempurna. Kami pun tertawa kembali.
Pimpinan Yayasan Darul Quran dan Sunah Rafah, Soleh Ibnu Mansoor (Abu Hakim), mengatakan, saat ini lebih dari 40 ribu anak-anak dan remaja Gaza hafal Alquran. Abu Hakim meyakini, menghafal Alquran bukanlah soal ada atau tidak ada waktu. Bukan pula soal bisa atau tidak bisa bahasa Arab. Kuncinya, semangat dan keimanan yang menjadi bahan bakar utama. “Anda lihat sendiri, tidak ada yang luar biasa yang kami lakukan untuk menghafal Alquran. Anak-anak hanya duduk membaca, kemudian mengulanginya dengan kesungguhan hati,” papar Abu Hakim.
Dia melanjutkan, tertanamnya keyakinan dalam dada anak-anak Gaza—hanya Alquran yang bisa menyelamatkan mereka dari semua cobaan hidup di dunia dan mengantarkan mereka dalam kehidupan bahagia di akhirat kelak—merupakan faktor utama cepatnya kemampuan menghafal Alquran. “Kami juga yakin, Alquran wasilah kami untuk menjadi Muslim yang tangguh dan terus menegakkan Islam di dunia ini,” ucap Abu Hakim.
***
Membaca reportase dan mendengar kenyataan yang mereka jalani di tengah kekejaman penjajahan Zionis Israel, hati ini terasa bangga, kagum, salut sekaligus sedih . Sedih pada diri saya sendiri yang hapalan Al Qur’annya masih jauh dari sempurna, bahkan bacaan Al Qur’annya pun masih teramat jauh dari baik dan benar… Astaghfirulloh, anak-anak Palestin itu begitu bersemangat dan bahkan belomba-lomba untuk tidak hanya mengkhatamkan Al Qur’an selama Ramadhan, tapi juga menghapalnya…Subhanalloh
Maka tak heran jika kita pernah mendengar ada ribuan anak-anak kecil tak lebih dari usia 10 tahun di Palestina sana benar-benar mampu menjadi hafidz… menjadi penjaga kalimat-kalimat Allah dalam dirinya. Subhanallah…
Semoga hati ini terus tergerak untuk senantiasa melantunkan ayat-ayat penuh hikmah itu setiap waktunya.
Kedengkian seringkali berujung kepada upaya mencelakakan orang yang dibenci. Inilah yang dialami Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) pada perjalanan dakwahnya. Berbagai cara telah dilancarkan musuh-musuh Islam, kaum musyrikin, dan kafir. Dari mulai rayuan halus, ancaman, bahkan upaya pembunuhan.
Dalam sejarah tercatat, kaum kafir berulangkali berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW. Ada yang dilakukan terang-terangan ketika terjadi peperangan terbuka. Namun, tak sedikit mereka melaksanakannya secara diam-diam ala spionase. Berikut ini beberapa upaya pembunuhan yang pernah dihadapi oleh Nabi SAW yang lebih dikenal dengan istilah ightiyal (pembunuhan diam-diam):
1. Kaum Quraisy pada Malam Hijrah ke Madinah
Kisah ini terjadi pada malam Hijrah Nabi SAW ke Madinah. Ketika itu, para pemuka Quraisy telah sepakat dalam pertemuan rahasia mereka di Dar an-Nadwah, sebuah rumah milik Qushay ibn Kilab. Mereka bersepakat membunuh Nabi SAW dengan melibatkan para pemuda dari setiap kabilah Arab yang ada.
Pada saatnya tiba, mereka mulai mengawasi dan mengintai rumah Nabi SAW. Namun, dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT), Rasulullah SAW mengetahui hal tersebut. Ia lalu menyuruh Ali ibn Abi Thalib menggantikan posisinya di atas pembaringannya. Sedang Nabi SAW menyusup keluar rumah menuju Madinah bersama Abu Bakar.
Kisah ini dimuat dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30).
2. Suraqah ibn Malik al-Madlaji
Hadiah berupa seratus ekor unta betina yang hampir beranak rupanya menjadi daya pikat semua orang, tak terkecuali Suraqah ibn Malik, seorang pemuda dari Madlaji. Syaratnya, harus menangkap Nabi Muhammad SAW.
Diam-diam pemuda yang terkenal lihai mencari jejak ini menyelinap keluar kampung dengan menunggang kuda. Lengkap dengan baju besinya, ia mengejar Nabi SAW yang ketika itu lolos dari kepungan kaum kafir. Dengan ketangkasannya ia berhasil menyusul Nabi SAW yang sedang bersama Abu Bakar.
Tiba-tiba, ketika tangannya hendak menarik busur panah, sebuah kejadian aneh menimpanya. Tangannya berubah kelu, tak mampu berbuat apa-apa. Kaki kudanya ikut terbenam dalam pasir. Diikuti debu-debu pasir beterbangan di sekitarnya, hingga membuat matanya tak mampu melihat apa-apa lagi.
Dalam keadaan panik, Suraqah akhirnya berteriak menyerah. Rasulullah SAW lalu menoleh seraya tersenyum dan berdoa. Aneh, seketika kaki kuda Suraqah terbebas dari jepitan pasir. Suraqah merasa heran dan kagum. Singkat kata, Suraqah akhirnya menyatakan keislamannya. Meski ketika itu, Suraqah pulang ke Makkah masih menyembunyikan identitas keislamannya.
3. Umair ibn Wahab dan Shafwan ibn Umayyah
Suatu hari usai perang Badar, Shafwan ibn ‘Umayyah dan karibnya ‘Umair bin Wahab bercakap-cakap di dekat Ka’bah. Mereka berdua merencanakan sesuatu hal yang sangat rahasia. Ingin membunuh Nabi Muhammad SAW sebagai balas dendam atas kematian keluarganya dalam perang Badar.
"Tenanglah, demi Latta dan Uzza, aku siap menjaga anak dan keluargamu. Makan-minum mereka menjadi tanggunganku. Binasa mereka adalah binasaku. Darah mereka adalah darahku. Hidup mereka adalah hidupku dan mati mereka adalah matiku," sumpah Shafwan meyakinkan sahabatnya, ‘Umair.
Mendengar janji setia itu, ‘Umair akhirnya menyatakan kesiapannya membunuh Nabi SAW. Dengan sebilah pedang tajam beracun, ‘Umair berangkat ke kota Madinah mengejar buruannya. Apa daya, rupanya gerak-geriknya mengundang kecurigaan ‘Umar ibn Khaththab yang langsung menangkapnya.
Di hadapan Nabi SAW, ‘Umair mengelak dengan berkata ingin menebus tawanan kaum musyrikin. Mendengar hal itu, Nabi SAW langsung menukas, “Dusta kamu! Bukankah engkau dan Shafwan duduk di dekat Ka'bah sepuluh hari yang lalu. Shafwan berkata padamu begini-begini. Sedang kamu berkata padanya begini-begini. Lalu kamu datang untuk membunuhku. Namun, Allah tak akan menguasakan kepadamu untuk membunuhku."
Mendengar penuturan itu, ‘Umair terkejut bukan kepalang. Sebab, ia merasa telah merahasiakan pembicaraan mereka. Dengan penuh penyesalan dan tulus ‘Umair menyatakan keislamannya langsung di hadapan Rasulullah SAW.
4. Tsumamah ibn Atsal
Ketika masa penyebaran dakwah Islam, Tsumamah ibn Atsal termasuk di antara para penguasa Arab yang menerima ajakan dakwah dari Rasulullah SAW. Namun, alih-alih mengiyakan, Tsumamah justru tersinggung dan merasa dihina. Sejak itu, Tsumamah memutuskan ingin membunuh Rasulullah SAW. Berkali-kali Tsumamah berusaha membunuh Rasulullah SAW, namun menemui kegagalan.
Malang tak dapat ditolak, suatu hari Tsumamah justru kepergok kaum Muslimin di kota Madinah. Akhirnya, ia ditawan bersama beberapa kaum musyrikin lainnya. Selama masa penawanan, diam-diam rupanya Tsumamah menaruh simpati kepada Rasulullah SAW. Sebab selama itu, ia mendapat perlakuan yang baik dan merasa sangat disantuni. Terlebih tak lama kemudian Tsumamah dibebaskan dari tawanan.
Keluar dari tawanan, ia bergegas ke sebuah sumur di dekat Baqi’. Di sana ia mandi dan bersuci. Setelah itu, Tsumamah kembali ke masjid Rasulullah dan bersyahadat di tengah keramaian umat Islam saat itu.
Setelah itu, ia menghadap Rasulullah SAW seraya berkata, "Wahai Muhammad, demi Allah dulu kamu adalah orang yang paling saya benci di muka bumi ini, sekarang kamu menjadi orang yang sangat saya cintai. Dulu agamamu adalah agama yang saya benci, tapi hari ini agamamu adalah agama yang saya sukai. Dulu negerimu adalah negeri yang saya benci, tapi kini berubah menjadi negeri yang saya sukai. Dulu saya telah membunuh para sahabatmu, lalu apa hukumanku saat ini?"
Sambil tersenyum Rasulullah SAW menjawab, "Tak ada cercaan dan hinaan bagimu sekarang. Islam telah memutus dosa-dosa yang lalu dan menghapusnya. "
5. Yahudi Bani Nadhir
Pasca peristiwa Raji’ dan Bi’ru Ma’unah yang menewaskan puluhan kaum Muslimin, Yahudi Bani Nadhir di kota Madinah merasa di atas angin lagi. Mereka kembali menyusun pengkhianatan yang berujung kepada upaya pembunuhan terhadap Rasulullah SAW.
Suatu hari Rasulullah SAW bersama beberapa orang sahabatnya mendatangi Bani Nadhir, meminta bantuan membayar diyat (tebusan) dua orang Bani Kilab yang terbunuh secara tak sengaja oleh seorang sahabat. Mereka lalu mempersilakan Rasulullah SAW dan beberapa sahabatnya menunggu di suatu tempat. “Kami mematuhinya, wahai Abul Qasim. Duduklah di sini sampai kami dapat memenuhi janji,” ujar salah seorang dari mereka. Rupanya, ketika itu Bani Nadhir diam-diam menyusun makar jahat mereka. Sebagian mereka lalu pergi menyiapkan sebuah batu besar untuk digelindingkan dari atas rumah tempat Nabi SAW menunggu di bawah.
Dengan pertolongan wahyu Allah SWT, kejadian yang hanya menunggu hitungan waktu tersebut buyar. Rasulullah SAW segera meninggalkan posisinya tanpa diketahui oleh siapa pun. Setelah itu, para sahabat juga menyusul kembali ke Madinah. Sampai di Madinah, Nabi SAW lalu membeberkan rencana busuk orang-orang Yahudi Bani Nadhir tersebut.
Usai kejadian tersebut, Rasulullah SAW tak lagi memberi maaf kepada Bani Nadhir. Klimaksnya, Rasulullah SAW menegaskan pengusiran mereka dari kota Madinah.
Dialog Muhammad SAW dengan Iblis
Naskah ini disarikan dari dua rujukan. Terdapat beberapa perbedaan kecil atas terjemahan , kami mencoba merangkumnya. Source –I : Bab-II POHON SEMESTA / Pustaka Progressif / Cetakan-I/Oktober 1999. Dari Kitab Sajaratul Kaun oleh Muhyiddin Ibnu Arabi / Darul ‘Ilmi al-Munawar asy-Syamsiyah, Madinah. Translated by : Nur Mufid, Nur Fu’ad.. Source-II : Dari Judul Asli : Syajaratul Kaun dan Hikayah Iblis. Risalah Muhyiddin Ibnu al-‘Arabi Translated By : Wasmukan, Risalah Gusti / Cetakan-II, Mei 2001
Dengan asma Allah, Yang Maha Rahman, Yang Maha Rahiim.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam bagi Muhammad SAW, serta salam bagi keluarganya yang suci juga bagi semua sahabat Rasulullah yang mulia.
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya tertancap kuat dan cabangnya (menjulang tinggi) ke langit, (QS. 14:24)
Topik Renungan :
NGERI !!, KHAWATIR !! TAKUT !! WASPADA !! ISTIGHFAR, TAUBAT, DZIKIR, TAFAKKUR
Kisah Dialog Rasulullah SAW
Dengan Iblis
Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata : ” Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar : “ Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku ”. Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :” Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu ?”. Para sahabat menjawab , ” Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ”. Rasulullah berkata : “ Dia adalah Iblis yang terkutuk – semoga Allah senantiasa melaknatnya”. Umar bin Khattab r.a. berkata :” Ya, Rasulullah, apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?”. Nabi SAW berkata pelan :” Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan ?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah SWT. Fahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian ! ”.
Ibnu Abbas berkata : “ Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya memanjang , kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan / kerbau . Dia berkata, “ Assalamu ‘alaika ya Muhammad, assalamu ‘alaikum ya jamaa’atal-muslimin ”. Nabi SAW menjawab :” Assamu lillah ya la’iin AKU telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis”.
Iblis berkata :” Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa .”
Nabi SAW berkata :” Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?”.
Iblis berkata,” Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku ‘Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepa-damu’. Allah SWT bersabda,” Demi kemulia-an dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu”. Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah. Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku”.
Rasulullah kemudian mulai bertanya :” Jika kamu jujur, beritahukanlah kepada-ku, siapakah orang yang paling kamu benci ?”.
Iblis menjawab :” Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluq Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.
Rasulullah SAW :” Siapa lagi yang kamu benci?”.
Iblis :” Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT”.
Rasulullah :” Lalu siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang Alim dan Wara yang saya tahu, lagi penyabar”.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran”.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang miskin yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya “.
Rasulullah :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar ?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluq sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar “.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang kaya yang bersyukur “.
Rasulullah bertanya :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur ?”.
Iblis :” Jika aku melihatnya meng-ambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal”.
Rassulullah :”Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat ?”.
Iblis :”Aku merasa panas dan gemetar”.
Rasulullah :”Kenapa, wahai terlaknat?”
Iblis :” Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat”. Rassulullah :”Jika mereka shaum ?”.
Iblis : ” Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa”.
Rasulullah :” Jika mereka menunaikan haji ?”.
Iblis :” Saya menjadi gila”.
Rasulullah :”Jika mereka membaca Al Qur’an ?’.
Iblis :’ Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api”.
Rasulullah :” Jika mereka berzakat ?”.
Iblis :” Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji / kapak dan memotongku menjadi dua”
Rasulullah :” Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?”.
Iblis :” Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang bezakat disenangi makhluq-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Ke-empat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya”
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam”.
Rasulullah :” Apa pendapatmu tentang Umar ?”.
Iblis :” Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Utsman ?”.
Iblis :” Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya”.

Setelah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu terakhir yaitu surah Al Maaidah ayat 3, ia pun pergi. Maka Rasulullah pun ke Madinah. Setelah Rasulullah mengumpulkan para sahabat, Rasulullah menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril. Ketika para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata, “Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna.”
Namun Abu Bakar ketika mendengar keterangan Rasulullah itu, ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Kisah tentang Abu Bakar menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar dan mereka berkata, “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma.”
Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.”
Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar, lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, “Ya Rasulullah, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau.” Karena Rasulullah mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah dan bergegas menuju ke rumah Abu Bakar. Setelah Rasulullah sampai di rumah Abu Bakar, maka beliau melihat mereka menangis dan bertanya, “Wahai para sahabatku, kenapa kalian semua menangis?” Kemudian Ali bin Thalib berkata, “Ya Rasulullah, Abu Bakar mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Apakah ini benar ya Rasulullah?” Lalu Rasulullah berkata, “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kalian semua telah dekat.”
Setelah Abu Bakar mendengar pengakuan Rasulullah, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara ‘Ukasyah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda.” Rasulullah menjawab, “Wahai ‘Ukasyah, Aku sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari.” Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas (diqishash).”
Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah menyahut dengan berkata, “Siapakah di pintu?” Lalu Bilal berkata, “Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengambil tongkat beliau.” Kemudian Fathimah berkata, “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya.” Bilal menjawab, “Wahai Fathimah, Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk diqishash.” Fatimah bertanya lagi, “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah?” Bilal tidak menjawab pertanyaan Fathimah. Setelah Fathimah memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah menerima tongkat tersebut dari Bilal, maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah.
Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar dan Umar tampil ke depan sambil berkata, “Wahai ‘Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda tetapi kamu qishashlah kami berdua.” Rasulullah segera berkata, “Wahai Abu Bakar dan Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.” Kemudian Ali bin Abi Thalib bangun dan berkata, “Wahai ‘Ukasyah, aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah. Oleh karena itu, kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah.” Lalu Rasultillah berkata, “Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.” Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata, “Wahai ‘Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah.” Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah pun berkata, “Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.” Rasulullah berkata, “Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul.”
Kemudian ‘Ukasyah berkata, “Ya Rasulullah, Anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah pun membuka baju. Setelah Rasulullah membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah maka ia pun mencium beliau dan berkata, “Saya tebus Anda dengan jiwa saya ya Rasulullah, siapakah yang sanggup memukul Anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan Anda yang dimuliakan oleh Allah dengan badan saya. Dan Allah menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu.” Kemudian Rasulullah berkata, “Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli surga, inilah orangnya.”
Kemudian semua para sahabat bergembira terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para sahabat pun berkata, “Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah di dalam surga.”
Subhanallah, Maha Suci Allah ….
Anda pasti tahu cermin dan kerap menggunakannnya sehari-hari. Dengan bercermin, kita menjadi tahu bagian mana yang kurang atau sudah pas dalam penampilan. Warna atau motif yang digunakan, apakah sudah cocok dengan postur tubuh dan warna kulit, sang cerminlah yang akan mengatakan cocok atau tidaknya bagi si pemakai.
Namun pernahkah Anda bercermin dari suatu peristiwa yang terjadi ? , baik bercermin dari pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Bercermin atas kejadian luar biasa dan kemudian mengambil hikmah dan pelajaran berharga untuk untuk memperbaiki penampilan kita ?
Tidak semua dari kita mampu melakukan itu. Suatu kejadian yang Allloh SWT hadirkan dalam kehidupan kita semuanya memiliki makna. Beruntunglah orang-orang yang mampu melihat hikmah atas peristiwa apapun, sebagaimana firman Alloh SWT dalam Al-Quran:
“Alloh menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. ( Al Baqoroh : 269)
1 Muharram, hari yang mengawali hitungan tahun 1431 Hijriyah. Pasti ada peristiwa-peristiwa di belakang masa yang berarti buat kita. Dan tak ada sesuatu yang paling berkesan selain mengambil pelajaran (hikmah) untuk kemanfaatan di depan masa yang sedang menanti. Rasululloh berpesan dengan sabdanya bahwa Hikmah adalah barang seorang muslim yang hilang dan siapapun yang menemukan, maka menjadi miliknya.
Bisa dipastikan, seseorang yang rajin bercermin akan lebih arif dalam melihat diri dan sekitarnya. Seperti sabda rasul, bahwa pelajaran itu berserakan di jalan, siapapun yang bisa mendapatkan maka menjadi miliknya. Di sinilah diperlukan keahlian khusus dalam melihat setiap peristiwa.
Bisa jadi, kalau kita tertusuk duri bisa ditafsirkan sebagai kesialan ketimbang hikmah. Namun bagi sang pengambil hikmah seperti halnya Lukmanul Hakim yang namanya terukir dalam Al Quran, peristiwa itu dipahami sebagai bentuk penyelamatan Allloh terhadap dirinya dari kebakaran yang akan membinasakannya.
Jadi, keahlian khusus seyogyanya dipelajari mulai saat ini adalah penanaman husnuzhon ( Baik sangka ) kita terhadap peristiwa yang Alloh berikan. Melihatnya bukan hanya dari kacamata kebaikan kita tetapi melalui kacamata kebaikan Alloh untuk kita.
Sehingga, bisa jadi perbaikan diri kita akan lebih mudah manakala kita mampu berkata jujur ketika hikmah datang dari peristiwa di hadapan kita. Dan sesungguhnya, tak ada yang lebih nikmat selain memperbaiki diri setiap hari sebagaimana pesan Khalifah Umar ra, “ Hisablah (amal) dirimu sebelum engkau dihisab-Nya di hari kiamat”. Lalu, adakah sesuatu yang lebih indah dari kesadaran ini ?
Wallohu’alam bishshowab.
