“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengn hujjah yang nyata. Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” ( QS. Yusuf: 108 )Hidup kadang tak ubahnya seperti merawat bunga mahal. Perlu ketelitian dan kesabaran agar bunga tetap indah. Sedikit saja sembrono, bukan saja bunga indah menjadi layu. Tapi, penyakitnya bisa menular ke bunga lain.
Ada yang gelisah ketika sampai tiga kali Rasululloh SAW menyebut akan datang ahli surga. Dan tiga kali orang yang datang selalu dia. Beliau adalah Saad bin Abi Waqash. Kegelisahanpun menjadikan Abdullah bin Umar menyatakan diri ingin bertandang ke rumah Saad.
Satu hari ia bermalam di rumah Saad, tapi hasilnya biasa-biasa saja. Tidak ada ibadah istimewa yang berbeda dengan biasa diamalkan para sahabat lain. Hingga lebih dari dua malam, Ibnu Umar terus terang. “saya Cuma ingin tahu, amal istimewa apa yang Anda lakukan hingga Rasul menyebut Anda ahli surga,”begitulah kira-kira ucap putera Umar bin Khathab ini.
Saad dengan tanpa sedikit pun merasa bangga mengatakan,”Tidak ada perbuatan ibadah saya yang istimewa . Kecuali, tiap menjelang tidur, saya selalu membersihkan hati saya dari hasad, kecewa, dan benci dengan semua saudara mukmin selama pagi hinga malam. Itu saja!” Seperti itulah jawaban Saad. Sederhana, tapi istimewa.
Berbeda dengan Ibnu Umar, Thalhah pun pernah gelisah. Beliau khawatir kalau sebuah ayat yang baru saja turun berkenaan dengan dirinya. Ayat itu berbunyi,”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Alloh mengtahui.” ( QS Ali Imron :92).
Soalnya, ada satu kebun kurma subur milik Thalhah yng begitu menambat hatinya. Hampir tiap hari ia berkunjung ke situ. Shalat Ashar dan Dhuhur disitu, tilawah dan zikir pun di kebun indah itu. Ia nikmati kicauan burung, dan pemandangan sejuk hijaunya dedaunan kurma.
Menarikny kegelisahan itu tidak ia tanyakan ke Rasululloh. Tapi, langsung ia infakkan buat jalan dakwah. Ia nyaakan di hadapan Rasululloh kalau kebun kesayangannya itu diwakafkan buat kepentingan perjuangn Islam. Subhanalloh!
Begitulah para sahabat Rasul. Mereka begitu gelisah ketika diri belum berhasil menagkap peluang kebaikan. Padahal, peluang itu sudah ditawarkan melalui ayat Al Quran yang baru saja turun atau ucapan Rasul. Kegelisahan itu belum akan sembuh hingga mereka benar-benar telah mengambil peluang itu dengan sebaik-baiknya.
Itulah sikap ihsan yang dicontohkan para sahabat dalam menata diri. Mereka begitu menjaga mutu amal agar tetap the best. Selalu terdepan. Tidak heran semangat fastabihul khairot atau berlomba berbuat baik begitu memasyarakat di kalangan sahabat Rasul.
Mereka seringkali terbingkai dalam sebuah ayat Al Quran tentang generasi pewaris Nabi. Dalam surah Faathir ayat 32.”Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami. Lalu, diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Alloh. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar .
Sikap ihsan itulah yang menjadikan pada sahabat Rasul selalu punya hubunrmonis degan hangan Yang Maha Penyayang, Alloh SWT. Hati mereka begit terpaut dengan mutu ibadah yang serba terbaik. Tidak heran jika berkah kemenangan selalu memancar di tiap sepak terjang perjuangan mereka. Siapapun yang mereka lawan. Dan seperti apapun kendala perjuangan yng mereka hadapi.
Begitupun dalam hubungan muamalah sesame manusia. Mereka tidak sedang menyulam benang vertical sementara tali horizontal terburai. Hubungan kepada Alloh slalu the best, dan kepada manusia sangat terawatt. Tidak ada hubungan dagang, perjanjian, hidup bertetangga yang cacat.
Mereka begitu sempurna karena setidaknya ada tiga hal.
Pertama, pemahaman dan ketaatan yang begitu utuh terhadap aturan Islam. Mungkin ini wajar karena Islam yang mereka peroleh langsung dari sumbernya yang pertama, Rasululloh SAW.
Kedua, kehausan mereka dengan ilmu selalu berdampak pada perubahan diri dan amal dihadapan manusia. Ini mungkin yang mahl. Mereka belajar Islam bukan buat sekedar ilmu pengetahua. Apalagi, Cuma kliping matri. Tapi, benar-benar sebagai penuntun langkah yang segera mereka ayunkan.
Dan ketiga, adanya keteladanan dari pihak yang sangat mereka hormati. Inilah yang mungkin langka. Tapi, ini pula yng mungkin menentukan. Membumi tidaknya sebuah nilai di tengah masyarakat sangat tergantung dari sepak terjang pelopornya. Cocokkan antara ucapan dan perbuatan. Jika klop, nilai akan berkembang dengan pesat. Tapi jika sebaliknya, sebuah nilai hanya sekedar kumpulan pengetahuan yang Cuma bagus dalam almari pajangan.
Alloh berfirman, “Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengn hujjah yang nyata. Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” ( QS. Yusuf: 108 )
‘Aku dan orang-orang yang mengikutiku.’ Itulah symbol keteladanan yang beruah ketaatan dan semangat kerja yang selalu membara.
Wallohua’lam.
This entry was posted
on Senin, Juli 20, 2009
and is filed under
Artikel
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
.

Poskan Komentar
Tinggalkan Komentar Yah...